Ilmu tanpa agama adalah buta, Agama tanpa ilmu adalah lumpuh. (Albert Einsten)

Jumat, 13 Maret 2015

Makalah Strategi Pembelajaran Menyimak



STRATEGI PEMBELAJARAN MENYIMAK
Makalah ini dibuat guna melengkapi tugas mata kuliah Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.
 
Pengampu : Ibu Dini

Disusunoleh :
Kelompok1
1.      Primadani Rucy Z               A510130101
2.      Aurora Maharani S             A510130106
3.      Ervina DwiAntari               A510130112
4.      Tiara Dewi S                       A510130117
5.      BagasSaputro                      A510130134

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015


BAB 1

PENDAHULUAN

A.    Latar belakang masalah
Didalam pembelajaran bahasa Indonesia terdapat empat ketrampilan berbahasa yang menjadi sasaran pokok, yaitu menyimak, berbicara, menulis dan membaca. Ketrampilan menyimak dan berbicara dikategorikan dalam ketrampilan berbahasa lisan, sedangkan ketrampilan menulis dan membaca dikategorikan dalam ketrampilan berbahasa tulis.
Menyimak dan berbicara merupakan ketrampilan berbahasa lisan yang amat fungsional dalam kehidupan manusia sehari-hari. Dengan ketrampilan menyimak dan berbicara kita dapat memperoleh dan menyampaikan informasi. Kegiatan menyimak dan berbicara tidak dapat dipisahkan. Oleh sebab itu, siswa dituntut untuk mampu menyimak dan berbicara dengan baik.

B.     Rumusan masalah
1.      Pengertian menyimak.
2.      Tujuan menyimak.
3.      Menyimak adalah suatu proses.
4.      Unsur-unsur menyimak.
5.      Jenis-jenis menyimak.
6.      Kemampuan menyimak siswa sekolah dasar.
7.      Tehnik menyimak.
8.      Langkah-langkah kegiatan pembelajaran menyimak.
9.      Contoh permainan untuk meningkatkan ketrampilan menyimak.
10.  Contoh pembelajaran menyimak menggunakan gambar.
           




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Menyimak
Menyimak menurut Djago Tarigan (1990) adalah “suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasi, menilai dan mereaksi atas makna yang terkandung didalamnya.” Sedangkan “Mendengarkan adalah proses menangkap bunyi bahasa dengan disengaja tetapi belum memahami.

Menurut Burhan (1971:81), Menyimak adalah suatu proses menangkap, memahami, dan mengingat dengan sebaik-baiknya apa yang didengarnya atau sesuatu yang dikatakan oleh orang lain kepadanya.

Menyimak atau mendengarkan melibatkan pendengaran, penglihatan, penghayatan, ingatan, pengertian ini merupakan kegiatan yang disengaja. Pendengar yang baik ialah pendengar yang berencana, yaitu ada alas an tertentu mengapa si pendengar itu dengan sengaja menyimak.

Hakikat menyimak adalah mendengarkan dan memahami isi bahan simakan karena itu dapat disimpulkan bahwa tujuan utama menyimak adalah menangkap, memahami atau menghayati pesan, ide, gagasan yang tersirat dalam bahan simakan.

B.     Tujuan Menyimak
Menyimak pada haikatnya ialah mendengarkan dan memahami isi bahan simakan. Karena itu dapatlah disimpulkan bahwa tujuan utama menyimak adalah menangkap, memahami, atau menghayati pesan, ide, gagsan yang tersirat dalam bahan simakan.

Tujuan yang bersifat umum itu dapat dirinci lagi sesuai dengan aspek tertentu yang ditekankan. Perbedaan dalam tujuan menyebabkan perbedaan dalam aktivitas pendengar yang bersangkutan. Salah satu klasifikasi tujuan menyimak menurut pendapat Djago Tarigan (1990) yakni menyimak bertujuan untuk :

1)      Mendapatkan fakta
2)      Menganalisis fakta
3)      Mengevaluasi fakta
4)      Mendapatkan inspirasi
5)      Menghibur diri
6)      Meningkatkan kemampuan berbicara

Pada saat mendengar, penyimak berusaha menangkap pesan pembicara yang sudah diterjemahkan dalm bentuk bunyi bahasa. Untuk menangkap bunyi bahasa diperlukan telinga yang peka dan perhatian terpusat. Kemampuan memusatkan perhatian sangat penting dalam menyimak, baik pada saat sebelum sedang maupun setelah proses menyimak berlangsung. 

C.    Menyimak adalah suatu proses
Kegiatan menyimak sebenarnya merupakan suatu proses yang aktif. Meskipun dalam kenyataannya secara fisik, ketika menyimak dilaksanakan seolah-olah pasif. Aktifnya kegiata menyimak dapat kita lihat pada waktu pemahaman simakan. Sebelum penyimak sampai kepada taraf pemahaman, penyimak harus berupaya sungguh-sungguh untuk memahami yang disimaknya. Kegiatan ini membuktikan bahwa menyimak sebenarnya bersifat aktif.

Menyimak sebagai suatu proses dikuatkan oleh pendapat beberapa ahli. Greene (dalam Djago Tarigan, 1990) membagi proses menyimak atas empat tahap, yaitu: mendengarkan, memahami, mengevaluasi dan menanggapi.
Walker Morris (dalam Djago Tarigan, 1990) membagi proses menyimak atas lima tahap, yaitu: mendengar, perhatian, persepsi, menilai dan menanggapi. Djago Tarigan (1990) menyimpulkan proses menyimak tersebut menjadi enam tahap, yaitu: mendengar, mengidentifikasi, menginterpretasi, memahami, menilai dan menanggapi.

D.    Unsur-unsur menyimak.
Setiap unsur merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan unsur yang lain. Unsur-unsur dasar menyimak ialah (1) pembicara, (2) penyimak, (3) bahan simakan dan (4) bahasa lisan yang digunakan.
Berikut ini adalah penjelasan masing-masing unsur, yaitu :
1.      Pembicara
Yang dimaksud dengan pembicara ialah orang yang menyampaikan pesan yang berupa informasi yang dibutuhkan oleh penyimak. Dalam komuniikasi lisan, pembicara ialah narasumber pembawa pesan (penyimak). Dalam aktivitasnya, seorang penyimak sering melakukan kegiatan menulis dengan mencatat hal-hal penting selama melakukan kegiatan menyimak.

2.      Penyimak
Penyimak yang baik ialah penyimak yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang banyak dan luas. Jika penyimak memiliki pengetahuan dan pengalaman yang banyak dan luas, ia dapat melakukan kegiatan menyimak dengan baik. Selain itu, penyimak yang baik ialah penyimak yang dapat melakukan kegiatan menyimak dengan intensif. Penyimak seperti itu akan selalu mendapatkan pesan pembicara secara tepat.
Hal itu akan lebih sempurna jika ia ditunjang oleh pengetahuan dan pengalamannya. Kamidjan (2001:6) menyatakan bahwa penyimak yang baik ialah penyimak yang memiliki dua sikap, yakni sikap obyektif dan sikap kooperatif.

3.      Bahan simakan
Bahan simakan merupakan unsur terpenting dalam komunikasi lisan, terutama dalam menyimak. Yang dimaksud dengan bahan simakan ialah pesan yang disampaikan pemicara kepada penyimak. Bahan simakan itu dapat berupa konsep, gagasan, atau informasi. Jika pembicara tidak dapat menyampaikan bahan simakan dengan baik, pesan itu tidak dapat diserap oleh penyimak yang mengakibatkan terjadinya kegagalan dalam komunikasi.

4.      Bahasa lisan

E.     Jenis-jenis menyimak
Menurut Djago Tarigan (1990), ada tujuh titik pandang yang digunakan sebagai dasar pengklasifikasian menyimak, yaitu :
1.      Sumber suara
2.      Taraf aktivitas penyimak
3.      Taraf hasil simakan
4.      Keterlibatan penyimak dan kemampuan khusus
5.      Cara penyimak bahan simakan
6.      Tujuan menyimak dan tujuan spesifik
Berdasarkan sumber suara yang disimak, dikenal juga dua jenis menyimak yaitu intra personal listeningatau menyimak intrapribadi dan inter personal listening atau menyimak antarpribadi.
Taraf hasil simakan bervariasi merentang mulai dari taraf rendah samapai taraf mendalam. Berdasarkan taraf hasil simakan tersebut, menurut Green and Petty, dalam bukunya Develoving Language Skill in The Elementary Scholl .yang dikutip Tarigan dikenal sembilan jenis menyimak. Kesembilan jenis menyimak, yaitu :
1)      Menyimak tanpa reaksi : penyimak mendengar sesuatu berupa suara atau teriakan, namun yang bersangkutan tidak memberikan reaksi apa-apa. Suara masuk ketelinga  kiri, keluar ketelinga kanan.
2)      Meyimak terputus-putus: penyimak sebentar-bentar menyimak, sebentar-bentar tidak menyimak, kemudia meneruskan menyimak lagi dan seterusnya. Pikiran bercabang, tidak terpusat pada bahan simakan.
3)      Menyimak terpusat : pikiran menyimak terpusat pada sesuatu, misalnya pada aba-aba untuk mengetahui bila saatnya mengerjakan sesuatu.
4)      Menyimak pasif: menyimak pasif hampir sama dengan menyimak dengan menyimak tanpa mereaksi. Dalam menyimak pasif sudah ada reaksi walaupun sedikit.
5)      Menyimak dangkal: penyimak hanya menangkap sebagai isi simakanya. Bagian-bagian yang penting tidak disimak, mungkin karena sudah tahu, menyetujui atau menerima
6)      Menyimak untuk membandingkan: penyimak menyimak sesuatu pesan kemudian membandingkan isi pesan itu dengan pengalaman dan pengetahuan penyimak yang relevan
7)      Menyimak organisasi materi: penyimak berusaha mengetahui organisasi materi yang disampaikan pembicara, ide pokoknya beserta detailnya penunjangnya.
8)      Menyimak kritis:  penyimak menganalisis secara kritis terhadap materi yang disampaikan pembicara. Bila diperlukan, penyimak minta data atau keterangan terhadap pertanyaan yang disampaikan pembicara.
9)      Menyimak kreatif dan apresiatif: penyimak memberikan responsi mental dan fisik yang asli terhadap bahan simakan yang diterima.
Kalsifikasi menyimak menurut H.G. Tarigan, dapat pula didasarkan kepada cara penyimakan bahan simakan. Cara menyimak isi bahan simakan mempengaruhi kedalam dan keluasan hasil simakan. Berdasarkan cara menyimak dikenal dua jenis menyimak :
·         Menyimak intensif :  penyimak memahami secara terperinci , teliti dan mendalam bahan yang disimak. Menyimak intensif mencangkup mencakup menyimak kritis, konsentratif,kreatif, eksploratori,interogatif, dan selektif.
·         Menyimak ekstensif: penyimak memahami isi bacaan simakan secara sepintas, umum dalam garis-garis besar, atau butiran-butiran penting tertentu. Menyimak ekstensif meliputi menyimak sosial,estetika,dan pasif.
Logan dkk. Yang dikutip Tarigan (1995:27) mengklasifikasikan juga menyimak atas dasar tujuan, yaitu tujuan khusus. Menurut mereka ada tujuh jenis menyimak yang perlu dikembangkan melalui pengajaran bahasa bagi siswa di sekolah.
1.      Menyimak untuk Belajar: melalui kegiatan menyimak seseorang mempelajari berbagai hal yang dibutuhkan. Misalnya siswa menyimak ceramah guru sejarah, bahasa indonesia. Mahasiswa berdiskusi.
2.      Menyimak untuk Menghibur: penyimak menyimak sesuatu untuk menghibur dirinya sendiri, misalnya menyimak bacaan, cerita- cerita lucu.
3.      Menyimak untuk Menilai: penyimak mendengar kan dan memahami simakan, kemudian menelaah, mengkaji, menguji, membandingkan dengan pengalaman dan pengetahuan menyimak.
4.      Menyimak Apresiatif: Penyimak memahami, menghayati, mengapresiasi isi bahan simakan. Misalnya menyimak pembacaan puisi, roman.  
5.      Menyimak untuk Mengkomunikasikan ide dan perasaan: penyimak memahami, merasakan ide gagasan, perasaan pembicara sehingga terjadi sambungan antara pembicara  dengan pendengar.
6.      Menyimak Diskriminat:menyimak untuk membedakan bunyi suara. Misalnya membedakan kata (e) dalam kata benar,m enta dan (E) dalam kata bebas,tembak,kesed  .
7.      Menyimak Pemecahan Masalah: penyimak   mengikuti uraian pemecahan masalah secara kreatif dan analitis yang disampaikan oleh pembicara. Mungkin juga penyimak dapat memecahkan masalah yang dihadapinya.

F.     Kemampuan menyimak siswa sekolah dasar
Tujuan utama pengajaran bahasa indonesia adalah agar para siswa terampil berbahasa, dalam pengertian terampil menyimak, terampil berbicara, terampil membaca, dan terampil menulis.
·         Taman kanak-kanak
a.       Menyimak pada teman sebaya.
b.      Mengembangkan waktu perhatian yang amat opanjang terhadap cerita dan dongeng.
c.       Dapat mengingat petunjuk-petunjuk dan pesan-pesan sederhana.

·         Kelas satu (5 1/2 – 7 tahun)
a.       Menyimak untuk menjelaskan, menjernihkan pikiran dan untuk mendapat jawaban atas pertanyaan.
b.      Dapat mengulangi secara tepat apa-apa yang telah didengarkan.
c.       Menyimak bunyi-bunyi tertentu pada kata-kata lingkungan.

·         Kelas dua (6 1/2 – 8 tahun)
a.       Menyimak dengan kemampuan memilih yang meningkat.
b.      Membuat saran-saran, usul-usul, dan mengemukakan pertanyaan untuk mengecek pengertiannya.
c.       Sadar akan situasi, bila sebaiknya menyimak atau sebaliknya.

·         Kelas tiga dan empat (7 1/2 – 10 tahun)
a.       Sungguh-sungguh sadar akan nilai menyimak sebagai sumber informasi dan kesenangan. Menyimak pada laporan orang lain, dengan maksud tertentu serta dapat menjawab pertanyaan yang bersangkutan dengan itu.
b.      Memperlihatkan keangkuhan dengan kata-kata atau ekspresi yang tidak mereka pahami maknanya.

·         Kelas lima dan enam (91/2 – 11 tahun)
a.       Menyimak secara kritis terhadap kekeliruan, kesalahan, propaganda, dan petunjuk yang keliru.
b.      Menyimak pada aneka ragam cerita puisi, rima kata-kata, dan memperoleh kesenangan dalam menemui dalam tipe-tipe baru.

G.    Tehnik menyimak
Teknik atau cara pengajaran menyimak di Sekolah Dasar dapat dilakukan secara variatif untuk menghindari kesan yang monoton terhadap strategi mengajar guru di Sekolah Dasar. Selain itu, melalui penggunaan teknik menyimak yang beragam menjadikan pembelajaran lebih menarik bagi siswa. Adapun beberapa teknik menyimak yang dapat digunakan guru dalam proses belajar mengajar di Sekolah Dasar, di antaranya adalah sebagai berikut :

1.      Teknik Simak-Ulang (Menirukan)
Tehnik ini siswa harus menyimak apa yang diucapkan guru, setelah itu siswa harus mengucapkan ulang apa yang disimaknya. Model ucapan yang akan diperdengarkan secara cermat oleh guru. Isi model ucapan dapat berupa fonem, kata, kalimat, ungkapan, kata-kata mutiara, peribahasa, dan puisi-puisi pendek. Model itu dapat diucapkan langsung atau direkam.

2.      Teknik Simak-Tulis (Dikte)
Simak-Tulis mirip dengan Simak-Ulang. Siswa menyimak apa yang dikatakan guru atau dari rekaman, kemudian siswa harus menuliskannya. Bahan yang ada pada Simak-Ulang Ucap dapat digunakan dalam Simak-Tulis (Dikte)


3.      Teknik Simak-Kerjakan
Tehnik ini, mula-mula siswa menyimak apa yang diperdengarkan oleh guru, kemudian siswa harus mengerjakan apa yang dikerjakan atau dikatakan dalam kegiatan menyimak tadi. Model biasanya berupa kalimat-kalimat perintah.

4.      Teknik Simak-Terk
Guru menyusun deskripsi suatu benda atau mainan siswa yang paling disukainya atau gambar foto tanpa menyebutkan nama bendanya. Deskripsi diperdengarkan kepada siswa. Siswa menyimak teks deskripsi dan harus menerkanya.

5.      Teknik Memperluas Kalimat
Guru menyebutkan sebuah kalimat. Siswa mengucapkan kembali kalimat tersebut. Kembali guru mengucapkan kalimat tadi. Kemudian guru mengucapkan kata atau kelompok kata lain. Siswa melengkapi kalimat tadi dengan kelompok kata yang disebutkan terakhir oleh guru. Hasilnya kalimat yang diperluas.

6.       Teknik Menyelesaikan Cerita
Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok beranggotakan 3-4 orang. Guru memanggil anggota kelompok pertama maju kedepan kelas. Yang bersangkutan disuruh bercerita, judul bebas. Setelah siswa pertama selesai bercerita seperempat misalnya, siswa kedua anggota kelompok itu harus meneruskan cerita temannya yang pertama tadi, terus sampai anggota kelompok selesai kebagian giliran. Siswa yang belum ke depan harus menyimak dengan baik, sebab ada kemungkinan giliran jatuh kepada orang yang tidak  menyimak. Siswa harus siap meneruskan cerita.

7.        Tehnik Membuat Rangkuman
Siswa menyimak cerita atau teks nonsastra yang agak panjang. Setelah itu siswa diharuskan membuat rangkuman apa yang telah disimaknya tadi. Apa yang disimak harus dirangkum menjadi sesingkat mungkin, tapi yang singkat itu tetap menjelaskan yang panjang.

8.      Teknik Menemukan Benda
Guru mengumpulkan sejumlah benda. Benda-benda itu sebaiknya sudah dikenalkan oleh siswa. Benda-benda itu dimasukkan kedalam sebuah kotak terbuka. Kemudian guru menyebutkan nama sesuatu benda. Siswa mencari benda yang diucapkan guru. Bila sudah ditemukan, diperlihatkan kepada teman-temannya.

H.    Langkah-langkah kegiatan pembelajaran menyimak
Langkah-langkah dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia kelas tinggi dalam ketrampilan menyimak berbicara berdasarkan strateginya adalah sebagai berikut :
Ø  Strategi menyimak dan berpikir langsung (MBL)
a.       Pra Simak
Persiapan Menyimak :
1.      Pada tahap ini guru memberitahukan judul cerita yang akan disimak.
Misalnya: “Saat sendirian di Rumah”.
2.      Berdasarkan judul tersebut guru menanyakan kepada siswa.
Misalnya: “Bagaimana seandainya malam hari sendirian di rumah?”.
3.      Untuk membangkitkan imajinasi siswa guru bisa menunjukan gambar rumah yang gelap.
4.      Selanjutya guru mengajukan pertanyaan.
Misalnya: “Apa kira-kira isi cerita yang akan dibacakan, apa yang kira-kira menarik dari cerita itu, bagaimana seandainya peristiwa itu terjadi pada kalian?”.
b.      Saat Simak
Guru membaca Nyaring :
1.      Guru membacakan cerita dengan suara nyaring secara menarik dan hidup.
2.      Pada bagian tertentu yang dianggap memiliki hubungan dengan prediksi dan tujuan pembelajaran, guru menghentikan pembacaan dan mengajukan pertanyaan kepada siswa.
Misalnya: “Apa kesimpulan yang kalian peroleh, apa yang terjadi kemudian, apa yang terjadi selanjutnya?”.
3.      Setelah tanya jawab dianggap cukup, guru melanjutkan membaca lagi dan mengulangi langkah di poin kedua sampai cerita selesai.
c.       Pasca Simak
Refleksi :
1.      Guru mengakhiri pembacaan cerita
2.      Selanjutnya guru meminta siswa untuk mengemukakan kembali isi cerita dan guru meminta pendapat siswa tentang unsur-unsur cerita.
Misalnya: tentang watak tokoh, tentang alur, setting dan sebagainya secara lisan.
Kegiatan ini bisa dilakukan dengan menunjuk siswa maju ke depan untuk menceritakan kembali cerita yang telah dibacakan guru secara bergantian.

Ø  Strategi Pertanyaan Jawaban (PJ)
a.       Pra Simak
1. Guru mengemukakan judul bahan simakan.
2. Guru mengajukan pertanyaan berkenaan dengan isi simakan yang akan dibicarakan.
b.      Saat Simak
Guru membacakan materi simakan. Pembacaan dapat dilakukan perbagian dengan diselingi pertanyaan atau dibacakan secara keseluruhan secara langsung.
c.       Pasca Simak
1.      Guru membacakan materi simakan. Pembacaan dapat dilakukan perbagian dengan diselingi pertanyaan atau dibacakan secara keseluruhan secara langsung.
2.      Setelah materi simakan selesai dibacakan gru memberi kesempatan kepada siswa menanyakan hal-hal yang belum dipahami.
3.      Guru mengadakan tanya-jawab dengan siswa.
4.      Siswa mengemukakan kembali informasi yang telah diperoleh. (bisa secara tertulis maupun lisan).
Ø  Strategi kegiatan menyimak secara langsug (KML).
a.       Pra simak
Guru mengemukakan tujuan pembelajaran, membacakan judul teks simakan, bertanya-jawab dengan siswa tentang hal-hal yang berkaitan dengan judul bahan simakan sebagai upaya untuk membangkitkan skemata siswa. Selanjutnya guru mengemukakan hal-hal pokok yang perlu dipahami dalam menyimak.
b.      Saat simak
Guru meminta siswa mendengarkan materi simakan yang dibacakan oleh guru.
c.       Pasca simak
1.      Guru melakukan tanya-jawab tentang isi simakan. Pertanyaan tidak selalu harus diikat oleh pertanyaan yang terdapat dalam buku. Guru hendaknya menambahkan pertanyaan yang dikaitkan dengan konteks kehidupan siswa atau masalah lain yang aktual.
2.      Guru memberikan latihan/tugas/kegiatan lagin yang berfungsi untuk mengembangkan ketrampilan siswa dalam menyimak.

I.       Contoh Permainan untuk Meningkatkan Ketrampilan Menyimak
Ada beberapa macam permainan yang dapat digunakan untuk pembelajaran Menyimak. Beberapa contoh diantaranya sebagai berikut :
1.      Bisik Berantai.
Permainan ini dilakukan dengan cara, setiap siswa harus membisikkan suatu kata (untuk kelas rendah) atau kalimat atau cerita (untuk kelas tinggi) kepada permainan berikutnya. Terus berurut sampai permainan terakhir. Pemain yang terakhir harus mengatakan isi kata atau kalimat atau cerita yang dibisikkan. Betul atau salah? Bila salah, dimana atau siapa yang melakukan kesalahan. Permainan ini dapat dilombakan dengan cara kelompok.
2.      Kim Lihat (Lihat Katakan).
Sediakan beberapa benda atau sayuran atau buah-buahan dalam suatu kotak tertutup. Siswa berkelompok. Seorang siswa anggota kelompok harus melihat satu benda yang ada didalam kotak. Setelah dilihat jelas, siswa tersebut harus menjelaskan sejelas-jelasnya kepada kelompoknya baik ciri-cirinya, rasa, warna atau apa saja yang dapat dilihatnya. Anggota kelompok yang lain harus mengambil benda yang dijelaskan oleh siswa yang melihat tadi. Kelompok yang paling cepat dan paling banyak mengambil benda dalam kotak, itulah yang menang.
3.      Cerita Berantai.
Permainan ini dilakukan berkelompok dua orang. Setiap kelompok harus melanjutkan cerita yang diucapkan kelompok lain. Cerita dimulai dari guru. Anggota kelompok yang satu sebagai pembicara melanjutkan cerita, yang seorang lagi mencatat kalimat yang diucapkan setiap kelompok dan membacakannya setelah cerita selesai. Misalnya, guru memberi kalimat pertama: “Di sebuah kampung ada seorang anak yatim...”. Kelompok pertama harus meneruskan cerita itu. Kalimat dari kelompok pertama diteruskan oleh kelompok kedua, dan seterusnya.
4.      Siap Laksanakan Perintah.
Permainan ini bermain melalui lagu. Siswa dibagi beberapa kelompok. Setiap kelompok harus mengganti lirik lagu “Suka Hati” dengan perintah yang harus dikerjakan oleh kelompok lain. Permainan diawali oleh guru dengan menyanyikan lagu : Kalau kau suka hati tepuk tangan (semua siswa tepuk tangan). Kalau kau suka hati tepuk tangan (semua siswa tepuk tangan). Kalau kau suka hati, mari kita lakukan, kalau kau suka hati tepuk tangan (siswa tepuk tangan). Setelah guru memulai dengan lagu tersebut, selanjutnya giliran kelompok pertama yang berdiskusi mengganti lirik dan perintah dari lagu tersebut.
Misalnya : kalau kau suka hati tarik tangan (kelompok lain menarik tangan temannya), kalau kau suka hati geleng kepala (kelompok lain menggelengkan kepala), kalau kau suka hati, mari kita lakukan, kalau kau suka hati loncat katak (kelompok lain meloncat seperti katak)

J.       Contoh Pembelajaran Menyimak Menggunakan Gambar.
Menerka Deskripsi Gambar (Simak-Terka).
Sediakan beberapa gambar (foto) dari koran atau majalah. Simpan di meja guru atau tempelkan di papan tulis. Guru mendeskripsikan salah satu gambar yang ada di papan tulis atau di atas meja kepada seluruh siswa. Selesai guru mendeskripsikan gambar secara lengkap dan rinci, salah seorang siswa ditunjuk untuk menerka gambar mana yang di deskripsikan oleh guru atau kalau gambarnya di atas meja, siswa harus mengambil gambar mana yang dideskripsikan guru. Selain secara klasikal seperti tadi, pengelolaan pembelajaran dengan gambar ini juga dapat melalui permainan, yaitu permainan ditektif. Siswa harus bekerja berpasangan, seorang menjadi ditektif dan seorang menjadi informan. Informan harus menjelaskan sejelas-jelasnya ciri-ciri penjahat yang harus ditangkap ditektif. Setelah jelas, ditektif harus mencari gambar yang dideskripsikan informan untuk ditangkap. Permainan ini bisa juga menggunakan siswa langsung tanpa gambar. Penjahat yang dideskripsikan ciri-cirinya oleh informan dan ditangkap oleh ditektif temannya sendiri di kelas.

DAFTAR PUSTAKA

Effendi, Ridwan (dkk). 2006. Pembinaan dan Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.Bandung : UPI PRESS
Sufanti, Main. 2010. Strategi Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Surakarta : Yuma Pressindo
Tarigan, Henry Guntur. 1994. Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa
Zulela. 2012. Pembelajaran Bahasa Indonesia Apresiasi Sastra di Sekolah Dasar.Bandung : PT Remaja Rosdakarya